Kontribusi Pemuda Untuk Desa

Read Time:2 Minute, 36 Second

Memiliki jiwa sosial yang tinggi membawa Budi pada kesuksesan. Semangatnya tuk terus melakukan perubahan mengantarkannya menjadi salah satu dari 5 inovator pemuda di Indonesia.

Daerah Kabupaten Asahan, Sumatera Utara masih lumrah terjadi pernikahan usia dini dan memberi keterbatasan bagi anak-anak perempuannya, hal ini membuat Budi Santoso tergerak untuk membentuk Forum Anak di Kabupaten Asahan. Forum anak yang ia bentuk bersama Pemerintah dan pemuda di daerahnya berhasil menyadarkan 500 anak se-Kabupaten Asahan terkait isu perkawinan usia anak yang masih sering terjadi di tempat tinggalnya.

Semangatnya untuk terus menjadi penggerak perubahan, membuat forum anak yang ia bentuk meraih penghargaan dari Forum Anak Nasional sebagai forum anak terinovatif se-Indonesia. Kekuatan tekad dalam setiap proses yang dilalui mengantarkan Budi menjadi sekretaris menteri pemberdayaan perempuan dan anak dalam event ‘sehari jadi menteri’ pada tahun 2016. Dalam event tersebut Budi dan rekan-rekannya yang terpilih sudah mendiskusikan banyak program salah satunya adalah Rancangan Undang-Undang penghapusan perkawinan usia anak.

Tidak puas dengan pengalamannya mengikuti event sehari jadi menteri, mahasiswa kelahiran 3 Mei 1999 ini lebih aktif lagi dalam menyuarakan semangat anak-anak muda yang ada di daerahnya untuk berkontribusi dalam kebaikan. Terbukti di tahun 2018 ia kembali menjadi finalis dalam event International Future Leader Conference yang diselenggarakan di Kota Makassar. Dan ia pun berkesempatan memenangkan SDGs Pemuda Indonesia Penggerak Perubahan serta terpilih menjadi 5 inovator terbaik dari 138 inovator yang mendaftar.

Bermodalkan pengalamannya mengikuti berbagai event nasional membuat mahasiswa jurnalistik tersebut berani membangun rumah cari perhatian (Rumah Caper) di desanya. Rumah Caper yang ia bentuk adalah representasi dari forum anak yang sebelumnya dibentuk saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas “rumah caper menjadi wadah bagi pemuda desa melakukan perubahan,” ujarnya, Senin (05/03).

Di rumah caper, ia membentuk pula staff dan relawan yang siap membimbing anak-anak desa dalam program yang ia jalankan salah satunya adalah program teras belajar. Ada sekitar empat puluh lima anak-anak desa yang bergabung di program teras belajar, di program tersebut mereka diajarkan bahasa inggris secara gratis serta dibimbing bagaimana berbicara di depan umum dengan baik dan diajarkan hal-hal yang belum mereka pelajari di bangku sekolah.

Kemudian adapula program pemberdayaan pemuda, dimana sekitar empat puluh pemuda desa dibimbing untuk menjadi penggerak perubahan dalam berbagai permasalahan yang kerap terjadi di desa. Baik itu permasalahan sosial, ekonomi, lingkungan, dan norma-norma lainnya. Selain itu ia juga memiliki program Girls Economic Environment. Program ini merupakan wadah bagi anak-anak perempuan yang sudah putus sekolah untuk melakukan fundrising dengan menjual alat tulis sekolah.

Perjalanannya dalam membentuk rumah caper tak selalu mulus, berbagai kendala yang datang tak menghalangi langkahnya untuk terus memajukan rumah caper. Beberapa hambatannya yaitu masalah pendanaan program yang masih terbatas dan minim, selain itu jarak juga menjadi kendala baginya untuk membimbing secara langsung rumah caper walalupun sudah ada dua belas staff yang membantunya di Kabupaten Asahan.

Budi berharap pergerakan sosial yang ia bentuk menjadi wadah yang sustainabledan dapat berkontribusi untuk desanya. Selain itu ia juga berharap para pemuda dapat berkontribusi pula untuk lingkungan tempat tinggalnya. “saya ingin bisa bermanfaat bagi banyak orang, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya, Senin (05/03)
Sefi Rafiani

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Masjid Cheng Ho, Wujud Toleransi Beragama
Next post Tabloid Edisi 59