Masjid Labui, Warisan Sultan Aceh Darussalam

Read Time:2 Minute, 59 Second



Masjid Raya Labui menjadi bukti sejarah peninggalan keislaman Kesultanan Aceh Darussalam. Banyak wisatawan domestik dan mancanegara turut mengunjungi masjid ini untuk wisata religi dan menikmati estetis bangunan masjid yang khas nan menawan.

Aceh sebagai wilayah yang dikenal dengan julukan serambi mekah menyimpan banyak bangunan sejarah peninggalan bernuansa ke-Islaman, salah satunya yakni Masjid Raya Potemeureuhom Labui. Masjid Raya Potemeureuhom Labui didirikan oleh Sultan Iskandar Muda pada 1612 M. Di era kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Aceh mengalami puncak kejayaan dan meraih predikat kerajaan Islam digdaya se-Asia Tenggara.

Secara geografis, Masjid Raya Potemeureuhom Labui terletak di samping di Jalan Lingkar Keuniree, Kabupaten Pidie, Aceh. Jika dilalui dari pusat Kota Sigli hanya berjarak kurang lebih 4 kilometer.  Waktu tempuh sekitar 10 menit dari pusat Kota Sigli menggunakan kendaraan roda dua.

Di awal pendiriannya, Masjid Raya Potemeureuhom Labui dibangun menggunakan kayu beratap rumbia. Dinding masjid terbuat dari batu dicampur kapur. Bahkan menurut penuturan Bilal Masjid, Teungku Muhammad Yasin Yunus, sumur tua yang berada di sekitar Masjid Raya Potemeureuhom Labui berbahan dasar telur yang dicampur dengan kapur.

Di dalam Masjid Raya Potemeureuhom Labui, terdapat mimbar yang sudah berusia ratusan tahun dengan arsitektur China dan terdapat banyak ukiran pada sekeliling mimbar. Meski mimbar ini sudah berusia ratusan tahun, namun sampai sekarang mimbar tersebut masih bisa digunakan ketika khotbah Jumat. Bukan hanya itu, mimbar ini kerap kali diperbaiki namun tidak mengubah bentuk aslinya. “Meski mimbar tersebut sudah ada penambahan dan modifikasi, tapi masih tetap menyerupai bentuk aslinya,” ujar Yasin, Senin (15/6).

Salah satu yang paling menarik ialah tongkat Iskandar Muda. Masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan tongkat Potemeureuhom. Tongkat ini terbuat dari campuran emas, kuningan, dan tembaga. Konon menurut cerita warga sekitar, dahulu tongkat tersebut digunakan oleh Iskandar Muda untuk mengusir ancaman bangsa asing yang hendak menyerang Aceh dan ditinggalkannya di Masjid Raya Potemeureuhom Labui ketika Iskandar Muda hendak melanjutkan perjalanan.

Keberadaan Tongkat Potemeureuhom dipercaya oleh sebagian masyarakat sebagai obat dan berkat. Salah satu pengunjung masjid mengungkapkan kedatangannya ke Masjid Raya Potemeureuhom Labui bertujuan untuk mengambil berkat dari air yang disiram ke tongkat Potemeureuhom. “Saya membawa anak saya untuk dimandikan dengan air tongkat tersebut agar mendapat berkat,” ujarnya, Senin (15/6). Bentuk pengambilan air tongkat tidak dikenai biaya, hanya cukup memberi sedekah ke dalam celengan masjid.

Di area Masjid Raya Potemeureuhom Labui juga terdapat benteng pertahanan yang mengitari masjid. Benteng ini dikenal dengan nama Diwai. Namun kini keberadaan benteng tersebut sudah tidak bisa dilihat lagi keindahannya karena telah diruntuhkan saat pembangunan masjid baru yang berukuran lebih besar.

Pengurus Masjid Raya Labui Teungku Zainal Abidin mengungkapkan, masjid yang dibangun dengan luas sekitar  922 meter persegi merupakan masjid kedua yang dibangun oleh Iskandar Muda  di Aceh. “Masjid ini menjadi masjid kedua yang dibangun oleh Iskandar Muda setelah Masjid Raya Baiturrahman,” ungkap Zainal, Senin (15/6).

Banyak para wisatawan berkunjung ke Masjid Raya Potemeureuhom Labui ini. Selain wisatawan domestik, wisatawan asing dari berbagai negara pun turut berkunjung. “Wisatawan yang datang biasanya dari luar Aceh dan luar negeri, termasuk Malaysia, Australia, Inggris, bahkan Prancis berkunjung ke sini,” tutur Yasin. Selain menyiratkan nilai sejarah Aceh, Masjid Raya Potemeureuhom Labui ini memiliki beberapa keunikan yang tidak bisa ditemui di masjid lain, seperti keberadaan tongkat Potemeureuhom dan masjid khas Aceh namun bernuansa arsitektur Cina.

Bagi para pecinta wisata religi sekaligus sejarah, Masjid Raya Potemeureuhom Labui ini sangat cocok untuk menjadi destinasi liburan ke Aceh. Di sini, pengunjung bisa berwisata religi dengan beribadah di masjid sekaligus menikmati keindahan arsitektur Masjid Labui yang menawan. Bangunan masjid dengan ciri khas kubah biru muda, pilar-pilar penyangga dengan hiasan kaligrafi, dan balai balai nan rapi tersusun berderetan di sekitar masjid.

Amrullah

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Keringanan UKT, Bagaimana Menurut Mahasiswa?
Next post Lika-Liku KKN-DR