Perjuangan Peranakan Cina dalam Kemerdekaan Indonesia

Perjuangan Peranakan Cina dalam Kemerdekaan Indonesia

Read Time:2 Minute, 3 Second
Perjuangan Peranakan Cina dalam Kemerdekaan Indonesia

Judul Buku: Aktivis Cina di Awal Republik

Penulis: Tempo

Penerbit: PT Gramedia

Tahun Terbit: 2020

Cetakan: Pertama

Jumlah Halaman: xv+107 halaman

Kemerdekaan yang telah diraih Indonesia selama 77 tahun silam tak lepas dari perjuangan masyarakat Indonesia yang plural. Tempo dalam buku “Aktivis Cina di Awal Republik” mengangkat peran tiga orang Cina yang tidak hanya dari kalangan terpelajar, tetapi juga dari kalangan rakyat biasa. 


Tempo dalam buku “Aktivis Cina di Awal Republik” mengangkat peran etnis Tionghoa dalam kemerdekaan Indonesia. Tokoh yang diangkat tidak hanya dari kalangan terpelajar, tetapi juga dari kalangan rakyat biasa. Tiga tokoh yang diangkat yaitu Liem Koen Hian, Yap Tjwan Bing, dan Djiauw Kie Siong yang punya peran dalam peristiwa kemerdekaan Indonesia. 

Liem Koen Hian merupakan seorang jurnalis yang aktif berpolitik. Liem juga anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang gencar menyuarakan hak kewarganegaraan bagi peranakan cina yang lahir di Indonesia. Pada 1951, Liem dijebloskan ke penjara karena dikira golongan kiri—komunis. Setelah bebas, Liem melepas kesempatan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) karena usaha yang selama ini dia perjuangkan tidak mendapat dukungan. Di akhir hidupnya, Liem wafat dengan menyandang status warga negara asing dan makamnya tidak berjejak sekarang.

Senada dengan Liem, Yap Tjwan Bing adalah apoteker yang punya semangat untuk berpolitik. Dalam perjalanan politiknya, Yap mengawali langkahnya dalam Komite Nasional Pusat Indonesia (KNIP) dan sempat berkecimpung di Partai Nasional Indonesia (PNI) untuk mendobrak tabu pada peranakan Cina di partai. Pada 1965, rumahnya habis diamuk kerusuhan rasial. Lalu, Yap pergi ke Amerika Serikat sembari mengobati anaknya yang terserang polio dan akhirnya berpindah warga negara. 

Djiauw Kie Siong merupakan sosok rakyat biasa berketurunan Cina yang hidup di tepian sungai Citarum. Pada 16 Agustus 1945, rumahnya menjadi saksi dari peristiwa Rengasdengklok. Sayangnya, hingga kini rumah Djiauw masih dibebani pajak dan belum diresmikan sebagai bangunan cagar budaya.

Buku ini menggambarkan kepada pembaca bahwasanya kemerdekaan Indonesia diraih berkat perjuangan banyak pihak dari latar belakang berbeda. Etnis Tionghoa yang banyak mendapat diskriminasi, juga punya andil yang cukup signifikan terhadap kemerdekaan Indonesia. Selain itu juga, dapat ditarik benang merah dari kisah tiga tokoh tersebut sesungguhnya perjuangan yang sejati dibangun dari prinsip yang kuat.

Buku Aktivis Cina di Awal Republik ini dilengkapi dengan foto dan ilustrasi pendukung dari kisah setiap tokohnya. Selain itu juga, pada bagian akhir terdapat infografis mengenai peristiwa dari perjuangan etnis Tionghoa dalam kemerdekaan Indonesia. Bahasa yang digunakan cukup mudah untuk dipahami. Namun, plot dalam buku ini belum disajikan secara berurut. 

Reporter: WMA

Editor: M. Naufal Waliyyuddin

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Kondisi Dilematis Wilayah Tambang Previous post Kondisi Dilematis Wilayah Tambang
Bahaya Tren Self-Harm bagi Remaja Next post Bahaya Tren Self-Harm bagi Remaja