Seren Taun Cigugur: Pesta Panen yang Penuh Syukur dan Toleransi

Seren Taun Cigugur: Pesta Panen yang Penuh Syukur dan Toleransi

Read Time:2 Minute, 15 Second
Seren Taun Cigugur: Pesta Panen yang Penuh Syukur dan Toleransi

Di kaki Gunung Ciremai, ada sebuah daerah bernama Cigugur. Wilayah ini berada di ketinggian 660 meter di atas permukaan laut, dengan tanah yang subur dan air yang melimpah. Masyarakatnya kebanyakan bekerja sebagai petani, sehingga kehidupan mereka dekat sekali dengan alam. Nama “Cigugur” sendiri berasal dari kata “cai gugur”, yang artinya “air yang menggugurkan.” Ceritanya, dulu wilayah ini bernama Desa Padara. Di desa tersebut hidup seorang tokoh sakti bernama Ki Gede Padara. Menjelang akhir hidupnya, ia meminta bantuan Sunan Gunung Jati agar bisa wafat. Sunan Gunung Jati setuju, dengan syarat Ki Gede masuk Islam. Saat wafat setelah mengucapkan syahadat, jasad Ki Gede menghilang. Sunan Gunung Jati kemudian menyalatkan secara ghaib. Karena tidak ada air, beliau berdoa kepada Tuhan, lalu menancapkan tongkatnya, dan muncullah mata air. Dari peristiwa itulah muncul nama Cigugur.

Apa Itu Seren Taun?

‎            Seren Taun adalah tradisi tahunan masyarakat adat Cigugur untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Kata “seren” berarti “menyerahkan” dan “taun” berarti “tahun.” Jadi, Seren Taun adalah simbol menyerahkan hasil panen dari tahun yang sudah berjalan sebelum masuk ke tahun baru dalam penanggalan Sunda. Biasanya, Seren Taun diadakan di bulan Rayagung (bulan terakhir dalam tahun Sunda). Selain wujud syukur, upacara ini juga jadi ajang kebersamaan, di mana semua orang—tanpa memandang suku atau agama—ikut merayakan. Ada juga cerita yang menghubungkan Seren Taun dengan penghormatan kepada Nyi Pohaci Sanghyang Sri, sosok yang dianggap sebagai simbol Ibu Pertiwi—pemberi kehidupan, hasil bumi, dan air.

Rangkaian Acara Seren Taun

‎1. Damar Sewu

Membawa seribu obor sebagai simbol menahan amarah dan mengendalikan diri, sambil mengucap syukur kepada Tuhan.

‎2. Nyandak Pare

‎            Mengambil pare indung (padi terbaik) dari lumbung untuk dijadikan benih musim tanam berikutnya. Prosesi ini dilakukan dengan doa, diiringi musik, tarian, dan warga yang ikut serta. Maknanya adalah menjaga keberlanjutan pangan dan mempererat kebersamaan.

‎3. Pesta Dadung

‎            Pesta syukuran untuk para penggembala dan petani yang berhasil menjaga ternak serta memanen hasil pertanian. Kata dadung berarti tali untuk mengikat ternak, melambangkan kerja keras dan tanggung jawab.

‎4. Doa Lintas Agama

‎            Pemuka agama dari berbagai keyakinan memimpin doa bersama. Ini menjadi simbol toleransi, persatuan, dan rasa syukur yang dirasakan semua orang.

Lebih dari Sekadar Tradisi

Seren Taun bukan hanya acara adat, tapi juga pengikat hubungan antarwarga. Tradisi ini mengajarkan bahwa kebersamaan dan rasa syukur bisa mempersatukan siapa saja, meski berbeda agama dan latar belakang. Hingga sekarang, Seren Taun tetap dijaga dan dilestarikan sebagai warisan budaya yang penuh makna.

Penulis: Faris Faqih
Editor: Muhammad Arifin Ilham

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
DEMA UIN Jakarta: Mati Nurani Mandul Demokrasi Previous post DEMA UIN Jakarta: Mati Nurani Mandul Demokrasi
Memadu Resah dalam Pengenalan UKM–LO Next post Memadu Resah dalam Pengenalan UKM–LO