
Perempuan Mahardhika menggelar rangkaian diskusi sebagai desakan kepada negara untuk menghentikan darurat femisida di Indonesia.
Perempuan Mahardhika menggelar acara “Panggung Merdeka 100%”, yakni agenda politik tahunan kedua kalinya untuk menghadirkan diskusi guna menghadirkan narasi alternatif tentang makna kemerdekaan serta imajinasi politik tentang Indonesia versi rakyat. Acara tersebut diadakan pada hari Sabtu (22/8), bertempat di Museum Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat.
Acara itu mengusung tema “Tidak Boleh Ada Lagi Perempuan Dibunuh!” guna menyuarakan darurat femisida di Indonesia. Rangkaian kegiatan berlangsung sejak pagi hari yang dibuka melalui sambutan Ketua Perempuan Mahardhika Mutiara Ika Pratiwi, pembacaan puisi oleh sastrawan Dewi Nova, pemutaran video narasi tentang femisida.
Lebih lanjut, rangkaian acara diskusi itu terbagi ke dalam beberapa sesi utama yang diawali dengan Pleno Pembuka bertajuk “Kapitalisme Membunuh Perempuan”. Pleno pembuka itu bertujuan untuk mengkaji keterhubungan sistem kapitalisme dengan rendahnya nilai kehidupan perempuan bersama narasumber Shakur dari Perempuan Mahardhika, Ika Ayu dari Perkumpulan Samsara, Ally Anzi dari Jakarta Feminist, serta novelis Okky Madasari.
Setelah itu, kegiatan kemudian berlanjut ke Forum Paralel Pertama yang menyoroti interseksionalitas serta kontrol tubuh perempuan oleh negara dan sistem kapitalis. Forum Paralel Kedua yang menyoroti keadilan ekologis dan perampasan ruang hidup masyarakat adat serta perempuan pejuang lingkungan. Lalu, pada Forum Paralel Kedua, diskusi menghadirkan Ferli dari Jaringan Kerja Perempuan Papua Jakarta (JKP2J), Olvy Tumbelaka dari Perempuan Adat Dayak Benuaq dan Forum Aktivis Perempuan Muda Indonesia (FAMM Indonesia), Ros selaku warga Gunung Gede, serta Perdana “Pepe” Roswaldy dari Sawit Womxn Educational Group. Jalannya pemaparan ini dipandu oleh wartawan Kompas, Sonya Hellen.
Rangkaian acara ditutup dengan Pleno Penutup untuk menarik benang merah konsolidasi gerakan serta Malam Solidaritas yang dimeriahkan oleh pementasan seni dari Paduan Suara Dialita, Ghandie, Methosa, Yacko, Lami, dan Kinan. Dari seluruh rangkaian acara, forum menyepakati komitmen kolektif bahwa hak hidup perempuan tidak bisa dikompromikan, dan gerakan rakyat akan terus memperkuat pengorganisasian akar rumput.
Shakur selaku pengisi acara mengatakan bahwa penyelenggaraan tahun ini merupakan pelaksanaan yang kedua kalinya dengan membawa semangat untuk mengedepankan isu femisida sebagai persoalan yang darurat. Ia menjelaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan yang terus-menerus dinormalisasi lambat laun akan berujung pada tindakan pembunuhan.
“Bahkan secara internasional, setiap sepuluh menit ada satu perempuan yang dibunuh. Di Indonesia sendiri, setiap dua hari ada satu perempuan yang dibunuh. Kita mau mengedepankan itu sebagai hal yang darurat, hal yang perlu untuk kita mengambil sikap politik dan menuntutnya kepada negara,” ujarnya Sabtu (22/8).
Antusiasme serupa juga disampaikan oleh Alia, salah seorang peserta yang hadir. Ia menceritakan bahwa ketertarikannya mengikuti acara ini bermula ketika ia mendapatkan bahan bacaan mengenai kegiatan tersebut saat mengikuti aksi sebelumnya. Menyadari bahwa ruang aman bagi perempuan masih jauh dari kata ideal dari masa ke masa, ia memutuskan hadir untuk memahami kondisi nyata yang dihadapi perempuan saat ini.
“Harapannya, seperti yang tadi disampaikan di sesi ketiga, semoga isu femisida ini lebih didaruratkan oleh pemerintah, agar lebih terlihat oleh pemerintahan, karena memang pada saat ini pemerintahan masih belum terbilang peduli oleh femisida yang terjadi,” kata Alia Sabtu (22/8).
Reporter: Ananda Adriansyah
Editor: Rifki Kurniawan
