Katanya Orang Susah

Katanya Orang Susah

Read Time:3 Minute, 33 Second
Katanya Orang Susah

Oleh: Mus’ad Firdaus*

Bagaimana rasanya hidup diambang kesulitan untuk berbelanja kebutuhan harian tanpa adanya uang, sementara gaji baru turun di akhir bulan? tanyakan lebih dalam kepada seorang pria lanjut usia bernama Pak Slamet. Seluruh jerih payahnya ia curahkan untuk menafkahi keluarganya; istri dan tiga anaknya. Bagaimana mungkin Tuhan membiarkannya tenggelam dalam pahitnya hidup tanpa diakhiri dengan ucapan alhamdulillah setelah lelahnya berjuang?

Pak Slamet, karyawan kantor terbiasa memanggilku dengan sebutan itu. Aku hanyalah lulusan Sekolah Dasar (SD) dari Desa Karangsari, Banyumas, Jawa Tengah. Usiaku 54 tahun. Sejak kecil, aku kurang mendapatkan pendidikan yang layak. Aku bahkan kerap menjadi bahan olok-olok teman-temanku hingga beranjak dewasa.

Pada usia 12 tahun, Aku nekat merantau ke Jakarta. Dalam bayangku, Jakarta adalah surga. Namun kenyataannya, aku justru merasa kecil di hadapan orang-orang di salah satu kantor tempatku bekerja. Menurutku, lulusan SD tidak mungkin dipandang tinggi, apalagi dihormati. Berawal dari kurir antar paket, kemudian dipercaya menjadi office boy (OB), hingga akhirnya menjadi karyawan tetap bagian alat tulis kantor (ATK) selama 30 tahun. Namun, gajiku tetap di bawah Upah Minimum Regional (UMR).

Namaku Slamet, berpengalaman dalam kesusahan mencari kerja sejak 30 tahun lalu. Saat ini, aku khawatir mendengar kabar anakku yang sakit di pesantren. Bermodalkan nekat, kendaraan dengan sisa bensin sedikit, dan tanpa selembar uang pun, aku berangkat menjenguknya. Anakku sejak kecil memang sering mengidap tifus. Mungkin itulah sebabnya aku merasa tidak kunjung sejahtera, karena hampir seluruh tabunganku habis untuk biaya kesehatan anakku.

Dengan suara lirih aku berkata kepada istriku, “Bu, kita tengok Bejo, yuk.”

Istriku segera mengiyakan dan bersiap tanpa bantahan.

Sesampainya di pesantren, kami bertemu Bejo. Anak itu tampak lesu dan hanya mengeluh sakit. Tanpa pikir panjang, aku bersikeras membawa Bejo ke klinik terdekat. Tak disangka, hasil pemeriksaan menunjukkan Bejo sehat. Mungkin ia hanya rindu orang tuanya. Sejak kedatangan kami berdua, Bejo kembali ceria.

Namun, entah apa yang terlintas di pikiranku saat itu. Aku justru ingin memeriksa gula darahku sendiri, sesuatu yang selama ini tidak pernah aku ketahui.

“Lima ratus tiga puluh, Pak, untuk gula darahnya.”

Petugas klinik tampak tergesa-gesa menyarankan agar aku segera dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Aku tercekat dan bingung. Aku bahkan tidak membawa uang.

“Cek gula darah puasa, ya, Pak. Lusa silakan datang ke rumah sakit sesuai rujukan ini,” kata petugas itu lagi.

Tahukah bahwa aku datang tanpa sepeser pun? Tahukah bahwa yang sakit justru diriku, bukan anak kesayanganku, Bejo? Dan tahukah bahwa Tuhan Maha Pengasih?

“Semuanya gratis, Pak.”

Kalimat itu terasa seperti pelukan dari langit. Mungkin karena seorang ayah sepertiku yang begitu peduli pada keluarga, terutama Bejo. Aku datang bukan hanya karena Bejo sakit, tetapi karena rindu Bejo. Aku percaya bahwa menafkahi keluarga jauh lebih berharga daripada menimbun harta yang tak seberapa.

Bejo akhirnya tidak perlu minum obat apa pun. Dokter justru menasihatiku mengenai pola hidup: tidak berolahraga berat, tidak menunda kontrol ke rumah sakit, tidak sampai dehidrasi, berhenti merokok, menghindari karbohidrat berlebih, gula tambahan, buah terlalu matang, serta makanan yang digoreng.

“Wah, banyak juga ya,” jawabku sambil menggeleng.

Sejak itu, Istriku rutin memasakkan makanan sehat: nasi merah dan aneka rebusan—pisang, jagung, ubi, singkong, talas, wortel, buncis, kentang, bayam, brokoli, telur, dan lainnya.

Siapa sangka, rekan kerjaku tertarik dengan makanan sehat tersebut? Aku sebelumnya menceritakan kejadian saat aku menjenguk Bejo hingga mengetahui kadar gula darahku mencapai 530.

“Lima ratus tiga puluh?!”

Rekan-rekanku terkejut. Sekitar 17 orang mengerubungiku yang sedang menikmati bekal dari istri tercinta.

“Pak, besok saya pesan dua porsi.”

“Saya juga, Pak.”

“Saya mau lima, Pak.”

Suasana kantor menjadi riuh hingga menarik perhatian atasan. Aku sempat khawatir akan dimarahi. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

“Saya pesan sepuluh, Pak,” kata atasannya dengan semangat.

Sejak saat itu, aku diperbolehkan berdagang di kantor. Usaha katering kecilku bersama istriku diberi nama Al-Mubarok. Dari hidup yang penuh tekanan dan kesulitan mencari tambahan penghasilan, Tuhan membuka jalan melalui penyakit gula darah yang aku derita.

Aku tidak hanya pulih secara kesehatan, tetapi juga finansial. Bahkan, aku meyakini bahwa suatu hari nanti Tuhan akan memanggilku pulang dengan keadaan husnul khatimah—semua berawal dari gula darah yang menjadi berkah dalam hidupku. Terimakasih,  ya Tuhan.

Jangan pernah mengeluh dalam setiap keputusan yang sudah Tuhan tetapkan.

Barangkali, Tuhan mengujimu sebagai orang pilihan.

Lelah di awal sudah pasti akan Tuhan jamin semuanya sebelum bertemu ajal.

*Penulis merupakan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Keluh Kenyamanan UIN Corner Park Previous post Keluh Kenyamanan UIN Corner Park