Hadapi MEA, Perbankan Syariah Butuh SDM Kompeten

Read Time:2 Minute, 57 Second

Dr. Euis Amalia, M.Ag
Pada tahun 2015 ini, Indonesia harus siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kini, pemerintah sedang gencar mengembangkan berbagai sektor perekonomian dan infrastuktur. Namun, dengan adanya sistem perekonomian yang lebih bebas, Indonesia tentu mendapat tantangan yang tidak mudah, tak terkecuali perbankan syariah.
Akankah perbankan syariah menyanggupi tantangan perekonomian bebas ini? Kepada Institut, berikut pemaparan Euis Amalia terkait perbankan syariah menghadapi MEA, Jumat (19/6). 
Selain menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Syariah dan Hukum, Euis aktif di organisasi Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) sebagai Wakil Sekretaris Jenderal II Pengurus Pusat, Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) sebagai Ketua Komisariat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI), dan Majelis Cendekiawan Wanita Muslim Internasional (MAAI).
Menurut Anda, bagaimana perkembangan perbankan syariah di Indonesia saat ini?
Perkembangan perbankan syariah di Indonesia saat ini relatif pesat. Dapat dilihat dari pertumbuhan aset perbankan syariah yang mencapai 30%-40% per tahun. Di Indonesia sudah ada 13 bank syariah. Sementara yang lainnya merupakan bank windows, yakni bank konvensional yang membuka cabang bank syariah.
Mengingat kuatnya perbankan syariah bertahan saat krisis 1998 dan pertumbuhannya sekarang cukup bagus, seberapa optimis perbankan syariah menghadapi MEA? 
Kalau dari pertumbuhan perbankan syariah, kita optimis menghadapi MEA. Tapi, dengan catatan harus diperkuat Sumber Daya Manusia (SDM)-nya. Karena SDM yang berlatar belakang syariah baru 10%. Sedangkan yang 90% latar belakangnya konvesional.
Berkaca pada Malaysia, dukungan pemerintah begitu luar biasa untuk mendorong masyarakat bertransaksi dengan bank syariah. Sehingga di Malaysia, pangsa pasar perbankan syariah sudah mencapai 29%, sedangkan di Indonesia baru 5%. Hal itu dikarenakan mayarakat Indonesia belum memahami betul perbedaan perbankan syariah dengan konvensional. Oleh karena itu, dukungan pemerintah amat penting dalam kebijakan penggunaan bank syariah oleh masyarakat yang masih dominan menggunakan bank konvensional.
Berdasarkan Islamic Forum Country Index (IFCI) 2014, industri keuangan perbankan syariah Indonesia mengalami penurunan. Indonesia berada di peringkat tujuh, padahal sebelumnya menduduki peringkat lima. Pangsa pasar perbankan syariah Indonesia juga tidak mengalami kenaikan. Hal inilah yang harus diperhatikan untuk menghadapi MEA.
Bagaimana dukungan pemerintah dalam rangka mendorong pertumbuhan perbankan syariah? 
Saat ini, pemerintah mendukung dengan adanya UUD Perbankan Syariah Nomor 21 Tahun 2008. Pengawasan perbankan syariah dilakukan secara langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu, pemerintah juga mendukung lewat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, seperti melalui Pasar Rakyat Syariah 2015 dan acara TV Sukses Syariah.
Selain pemerintah, pihak mana saja yang berperan penting mendorong pertumbuhan perbankan syariah?
Selain pemerintah, pihak yang berperan penting mendorong pertumbuhan perbankan syariah ialah ulama, Dewan Syariah Nasional (DSN), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan perguruan tinggi yang membuka prodi-prodi ekonomi syariah.
Lalu, bagaimana kualitas SDM perbankan syariah di Indonesia saat ini? 
SDM belum memenuhi kualifikasi dan yang kompeten pun masih kurang kualitasnya. Karena dominannya SDM dengan latar belakang perbankan syariah hanya mengerti sistem syariah dan SDM dengan latar belakang bank konvensional hanya mengerti sistem konvensional Sedangkan perbankan syariah saat ini butuh ahli yang kompeten di dua bidang tersebut.
Apa saja langkah strategis perbankan syariah dalam menghadapi MEA?
 
Perbankan syariah perlu menambah SDM yang kompeten, mengembangkan teknologi, memperlebar sosialisasi dan edukasi masyarakat mengenai produk perbankan syariah, serta menambah inovasi produk perbankan syariah.
Dengan adanya tujuan MEA yang ingin menyuarakan ekonomi negara-negara ASEAN ke kancah internasional, lantas apa peran perbankan syariah dalam mencapai tujuan itu?
 
Perbankan syariah turut andil dalam menyuarakan ekonomi syariah di internasional, terutama di Organisasi Islam Dunia (OKI). Masalahnya, perbankan syariah masih cenderung berkompetisi dengan sesama ASEAN pada MEA. Padahal, untuk mencapai tujuan MEA, perbankan syariah di ASEAN harus bersatu.
IK

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Hilangnya Ajaran Nabi Setelah Wafat
Next post Paham Ekonomi Hatta: Bukan Smithian atau Maxian