Academic Burnout  Pada Mahasiswa

Academic Burnout Pada Mahasiswa

Read Time:3 Minute, 29 Second

Academic Burnout  Pada Mahasiswa

Sudah hampir dua tahun, Indonesia dihadapkan pada pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Ditengah merebaknya wabah COVID-19 yang belum dapat diprediksi kapan meredanya, membuat para mahasiswa terpaksa untuk merubah kebiasaan belajarnya. Salah satunya yaitu kebiasaan belajar yang harus dilakukan di rumah masing-masing secara daring.

Berdasarkan Control Value Theory, ketika seseorang merasa mampu ataupun tidak mampu dalam mengontrol aktivitas akademiknya yang penting ataupun yang tidak penting, maka akan muncul emosi negatif yang dapat berdampak pada aktivitas akademis maupun prestasi yang dicapai. Burnout dalam bidang akademik atau yang sering dikenal dengan academic burnout didefinisikan sebagai suatu reaksi emosional, fisik, dan mental yang negatif terhadap studi yang berkepanjangan.

Lalu bagaimana sebenarnya arti secara spesifik tentang academic burnout di kalangan mahasiswa,  apa saja faktor yang dapat memicu terjadinya academic burnout, lalu apakah kasus academic burnout pada pandemi lebih meningkat daripada ketika offline, dan bagaimana tanggapan ketika terdapat mahasiswa yang self diagnosis bahwa dirinya sedang terkena academic burnout? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Institut  melakukan wawancara khusus dengan Pakar Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Risatianti Kolopaking, Senin (22/11).

Apa itu academic burnout secara spesifik?

Academic burnout adalah kondisi emosi negatif yang berkaitan dengan kondisi fisik seperti rasa lelah, keluhan-keluhan sakit tertentu. Akibatnya, membuat kondisi mental merasa sedih, jenuh. Bahkan pada tahap kehilangan gairah yang diakibatkan oleh pekerjaan maka kedua hal tersebut saling melengkapi aspek-aspek tersebut.

Namun seseorang yang mengalami burnout masih tetap mampu menjalankan tanggung jawabnya. Ciri-ciri yang dirasakan seseorang mengalami burnout yaitu tubuhnya seperti terbakar karena kondisi yang lelah. Jika sudah tidak dapat melaksanakan kegiatan sehari-hari dan malas mengikuti sesuatu kegiatan maka itu sudah bukan disebut burnout tetapi sudah masuk pada tahap gangguan mental.

Faktor-faktor apa saja yang dapat memicu terjadinya academic burnout?

Faktor biologis yaitu berkaitan dengan dirinya sendiri. Dapat dilihat seperti pola makan, tidur yang tidak teratur, kurang istirahat dan jadwal kegiatan sehari-hari yang tidak teratur. Dari faktor psikologisnya terdapat masalah, mungkin masalah dengan dosen, teman, ataupun keluarganya yang dapat memicu terjadinya academic burnout yang berdampak pada kegiatannya sehari-hari di kampus.

Faktor sosial seperti yang sudah disinggung dari faktor psikologis yaitu lingkungan keluarga atau teman serta lingkungan kampus seperti suasana belajar, target-target yang diberikan. Semakin seseorang merasa tidak mampu dalam melakukan kegiatan perkuliahannya maka hal itu dapat memicu terjadinya academic burnout. Dan yang perlu ditekankan bahwa ketika “merasa” tidak mampu saja dapat memicu terjadinya academic burnout. 

Bagaimana cara mengatasi agar tidak terjadi academic burnout?

Pertama-tama, buatlah jadwal untuk kegiatan sehari-hari. Jadwalkan waktu untuk belajar, main, dan mengerjakan tugas rumah. Berikan istirahat untuk otak dan tubuh agar kembali segar dan bisa mengembalikan energi yang habis terpakai. Lalu yang kedua, keterbukaan kepada dosen atau orang tua ketika mendapatkan tugas yang dirasa kurang mampu dan bisa dikomunikasikan secara baik dan sopan.

Selanjutnya yang ketiga, kerjakan atau cicil tugas-tugas yang sudah diberikan agar tidak menumpuk dan buatlah jadwal untuk mengerjakannya. Konsultasikan jika dirasa ada yang belum paham tentang tugas kepada teman dan banyak membaca buku mengenai kepribadian atau mental issue.

Di masa pandemi yang hampir 2 tahun ini, pembelajaran dilakukan seluruhnya secara online. Apakah kasus academic burnout semakin meningkat daripada sebelum terjadinya pandemi?

Kasusnya tidak ada peningkatan, sama saja ketika sebelum terjadinya pandemi. Mungkin ciri-ciri nya saja yang berbeda. Kalau offline bisa berkaitan dengan kehadiran dan kontak langsung dengan dosen serta teman yang dapat mengubah energi yang positif maupun negatif. 

Kalau online tentu memiliki ciri yang tersendiri karena tidak melakukan kontak langsung lalu kemudian tugas-tugas yang diberikan secara kelompok,  terkadang malah dikerjakan secara individu yang mana dapat memunculkan emosi tersendiri.

Bagaimana tanggapan Anda ketika terdapat mahasiswa yang mendiagnosis dirinya sendiri bahwa terkena academic burnout?

Self diagnosis terhadap burnoutsebetulnya ada baiknya, karena kita dapat mengetahui bahwa kondisi diri kita sedang merasa lelah dan dapat menjadi sinyal bagi diri kita bahwa tubuh kita sudah merasa lelah. Jika seseorang sedang merasakan terkena burnout,  maka orang tersebut harus bisa mencari faktor apa yang memicu terjadinya burnoutserta harus dapat mengelola  supaya agar tidak terjadi burnout. Sebab ketika seseorang sadar bahwa dirinya sedang terkena burnout,  maka timbul kesadaran pada dirinya untuk mengelola bahwa seseorang itu mampu mengikuti setiap proses perkuliahan.

AC

 

 

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Wartawan Tidak Perlu Dipidana Previous post Wartawan Tidak Perlu Dipidana
Secercah Cahaya Disabilitas Netra Next post Secercah Cahaya Disabilitas Netra