Mahasiswa Terkapar, Dikeroyok Satpam

Read Time:4 Minute, 18 Second

Seorang mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) dikeroyok Satuan Pengaman (Satpam). Akibat pemukulan brutal tersebut, Immanuel Saliban yang juga mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) terkapar di rumah sakit.

Salah seorang saksi mata, Wankhairiza bercerita tentang kronologi kejadian tersebut. Sebagaimana dikutip dari laman www.suarausu.co, Rabu (18/10) sekitar pukul 22.00 seorang Satpam bernama Slamet Riadi datang menemui Immanuel yang tengah asyik bermain futsal. Kedua pun terlihat tengah berbicara serius. Temannya di lapangan futsal Ia acuhkan. Tak lama kedua pun terlibat cekcok. “Suasana memanas terjadi baku hantam,” tutur Riza yang juga pegawai Bagian Perlengkapan di FIB USU.   

Melihat perkelahian antara Immanuel dan Slamet, beberapa mahasiswa pun datang mencoba melerai. Setelah dilerai akhirnya perkelahian pun dapat diamankan. Lebih lanjut, Riza dan beberapa mahasiswa FIB meminta Slamet dan Immanuel untuk meninggalkan kampus.”Kami menyuruh mereka bubar. Agar kondusif,” tambah Riza.
Sayang, duel malam itu pun belum usai. Dendam tampaknya masih menyala. Pasalnya, keesokan harinya, adu jotos kembali terulang. Salah satu teman Immanuel, Frima pun mengisahkan. Ia dan Immanuel pada Kamis pukul 23.00 WIB sedang mengendarai sepeda motor melewati Jalan Alumni—dekat pos Satpam—. Mereka bermaksud pulang ke kontrakan masing-masing setelah melaksanakan kegiatan jurusan seharian. Tapi, alangkah terkejutnya Frima, tiba-tiba sekelompok Satpam USU datang mengerumuni mereka dari belakang. Menurut Frima, kala itu sekitar lima sepeda motor mengejar mereka.
Rasa khawatir pun muncul. Tanpa pikir panjang, Frima pun langsung tancap gas. Setelah kejar-kejaran, Frima dan Immanuel pun terjatuh di pintu masuk FIB. “Nuel langsung bangun. Ia melarikan diri,” tutur Frima, Jumat (20/10). Sayang, nasib nahas menimpa Immanuel. Ia tertangkap dalam pelarian. Secara membabi buta dipukuli oleh beberapa orang Satpam USU.
Di sisi lain, seorang saksi pun melihat tatkala Immanuel tertangkap pada Kamis (19/10). Celmon Simanjutak, mahasiswa FIB secara terbata-bata mengungkapkan kejadian tragis itu. Ia pun mencoba mengingat secara detail. Sesekali terlihat Ia memejamkan mata dan menghirup napas. “Nuel dipukuli beramai-ramai pake balok kayu dan pentungan,” tuturnya sembari menundukkan kepala. Terlihat getaran di bibirnya. Tak lama kemudian Ia mengangkat kepalanya. Menyusun ingatan untuk mengungkap peristiwa itu. Setelah dipukuli,  tiba-tiba datang mobil patroli USU –notabenenya dikendarai Satpam—  ke lapangan futsal FIB tempat Nuel dipukuli. “Mereka menyeret tubuh Nuel yang tak berdaya masuk ke dalam mobil. Ia diseret dengan dililitkan rantai ditubuhnya. Dalam mobil pun Ia masih tetap dipukuli laiknya binatang. Tanpa ampun,” tutur Celmon sebagaimana dikutip dari laman resmi Suarausu.com.

Alhasil Nuel pun sempat menghilang setelah dibawa pergi menggunakan mobil patroli.  Beberapa mahasiswa yang melihat terjadinya pengeroyokan langsung mendatangi Pos Keamanan USU untuk melakukan aksi dan meminta penjelasan terkait keberadaan Nuel.  Wakil Gubernur FIB Zeco HS Pardede mengatakan masa aksi tergabung dari beberapa mahasiswa di fakultas USU.

Lebih lanjut menurut Zeco mahasiswa melakukan aksi untuk menuntut klarifikasi dan penjelasan terkait penangkapan mahasiswa yang bernama Nuel. “Kami ingin mengatahui keberadaan kawan kami,” ungkapnya, Jum’at (20/10).

Setelah Mahasiswa melakukan aksi di depan Pos Keamanan USU, lima orang satpam pun diamankan oleh Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Medan. Kelimanya pun menjalani pemeriksaan terkait pengeroyokan pada mahasiswa. Seperti yang diungkapkan Kepala Subbagian Operasional D. Sembiring Ihwal penangkapan lima satpam untuk dimintai keterangan terkait keberadaan Nuel. Lebih lanjut Ia tidak mengatahui bagaimana proses penangkapan lima orang satpam oleh kepolisian.“Saya cuma dapat laporan bahwa lima orang satpam telah diamankan oleh kepolisian,” Jelasnya seperti dikutip dari laman Suarausu.co.

Terkait pengeroyokan Wakil Rektor V USU Luhut Sihombing angkat bicara. Ia berkata akan menindak tegas kepada satpam yang melakukan tindakan pengeroyokan pada mahasiswa. Di samping itu, Ia pun tengah menunggu hasil pemeriksaan dari Polrestabes Medan. 

Menurut Luhut tindakan satpam sangat tidak layak, apalagi pihak rektorat tidak pernah memerintahkan Satpam USU untuk melakukan tindakan kekerasan kepada mahasiswa. “Enggak bisa dia melakukan kayak begitu,” tegasnya, Jum’at (20/10).

Akibat Penggeroyokan tubuh Immanuel terbaring di Rumah Sakit Colombia. Badannya mengalami luka-luka. Rasa sakit menjalar disekujur. Hingga berita ini diturunkan pihak keamanan—Satpam USU—enggan berkomentar. Pesan via WhatApp dan telepon telah dilayangkan. Namun hasilnya nihil.

Kondisi Korban

Nuel pun saat ini tengah menjalani perawatan setelah mengalami pengeroyokan oleh beberapa satpam. Berada di RS Colombia sejak Jum’at (20/10). Kondisi Nuel belum juga sadar sepenuhnya dan masih merasakan sakit disekujur tubuhnya. Pihak dokter menyampaikan bahwa Nuel masih dalam kondisi kritis.

Seperti dikutip dari laman resmi Suarausu.co, Adik Kandung Nuel, Regina Saliban dengan mata yang berkaca-kaca menceritakan kondisi kakaknya saat ini. Menurutnya Nuel masih harus menjalani perawatan intensif. Bahkan sesekali Ia melihat Nuel berusaha untuk melepaskan infus yang melekat ditangannya karena tidak kuat menahan rasa sakit. Namun pihak dokter menyarankan tangan dan kaki Nuel untuk diikat agar Ia tidak begitu banyak bergerak. “Nuel sekarang jadi susah tidur serta terus menerus meintih kesakitan, Ia bahkan meminta pulang ke rumah karena tidak nyaman berada di rumah sakit” tuturrnya, Senin (23/10).


Lebih lanjut Regina masih belum mengetahui bagaimana kondisi bagian otak yang terluka yang dirasakan oleh kakaknya. “Kita sekeluarga baru melihat bagian tubuh Nuel yang terluka namun saat ini kita belum melakukan pemeriksaan pada otak kepala Nuel apakah terluka cukup parah,” ungkapnya, Senin (23/10). Melihat kondisi kakaknya saat ini, Regina hanya berharap agar kondisi kakaknya bisa kembali normal serta masalahnya bisa selesai. 

DS

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Keramik: Berikan Wadah Kreatifitas Peduli Lingkungan
Next post Kode Etik Polisi, Kemana?