
Judul: 17 Surat Cinta
Tahun Rilis: 2024
Genre: Dokumenter
Sutradara: Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo
Durasi: 1.28.30
Film dokumenter 17 Surat Cinta merupakan karya kolaboratif yang diproduksi oleh Ekspedisi Indonesia Baru bersama Auriga Nusantara, Forest Watch Indonesia, Yayasan HAkA, Greenpeace Indonesia, dan Pustaka Bentala Rakyat. Film itu disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Yusuf Priambodo. Film merupakan bagian dari upaya advokasi lingkungan hidup di Indonesia.
Judul 17 Surat Cinta berasal dari tujuh belas surat dan laporan yang dikirim oleh masyarakat sipil kepada pemerintah. Surat-surat tersebut berisi temuan lapangan terkait praktik deforestasi yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, khususnya di Suaka Margasatwa Rawa Singkil, Aceh—kawasan konservasi yang secara hukum seharusnya steril dari aktivitas alih fungsi lahan.
Film dokumenter itu menyoroti masifnya deforestasi dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit. Melansir dari WALHI, sejak 2016 hingga 2025 telah terjadi deforestasi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat alih fungsi lahan oleh 631 perusahaan sebesar 1,4 juta hektare. Alih fungsi tersebut menjadi salah satu penyebab bencana alam berupa banjir dan longsor yang membuat 156.918 orang harus mengungsi, 402 orang hilang, dan 442 orang meninggal dunia.
Di Indonesia sendiri, total lahan sawit tahun 2023 telah mencapai 16,8 juta hektare. Jumlah tersebut menunjukkan besaran hutan yang telah beralih fungsi jadi perkebunan kelapa sawit. Salah satu wilayahnya adalah Aceh. Dalam film itu dijelaskan bahwa jumlah tutupan hutan yang tersisa di Aceh sebesar 55 persen, lebih besar dari Sumatera Utara yang hanya tersisa 26 persen. Namun, angka tersebut kian berkurang seiring masifnya alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit.
Suaka Margasatwa Rawa Singkil menjadi contoh paling konkret. Sepanjang 2022 hingga akhir 2023, jumlah alih fungsi lahan telah mencapai 1000 hektare. Jumlah tersebut tergolong signifikan untuk wilayah yang secara hukum tidak boleh dialihfungsikan. Padahal kawasan hutan tersebut seharusnya menjadi pusat populasi orangutan di dunia.
Adanya alih fungsi hutan itu berdampak buruk pada masyarakat dan satwa liar. Dalam tujuh tahun terakhir, banjir terjadi di 344 titik secara berulang sebagai akibat dari alih fungsi lahan. Bagi satwa liar, alih fungsi lahan menyebabkan luas habitat mereka menjadi semakin sempit.
Tidak hanya di Aceh, Boven Digoel, Papua Selatan juga menghadapi ancaman yang sama. Masyarakat adat Awyu digambarkan tengah berjuang mempertahankan hutan adat mereka yang diserahkan negara kepada pihak swasta. Hutan yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan justru dialihfungsikan tanpa persetujuan dan partisipasi masyarakat adat.
Film itu membuka mata penonton bahwa alam Indonesia semakin rusak akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit. Di sela kepiluan tersebut, selalu ada tangan-tangan yang berusaha menyelamatkan hutan dan tekad kuat untuk tidak menyerah pada keadaan.
Meskipun demikian, terdapat beberapa aspek visual yang masih perlu ditingkatkan. Pada beberapa adegan, video yang diambil kurang konsisten. Hal tersebut mengganggu alur dan kenyamanan menonton. Meski demikian, kekurangan teknis tersebut tidak mengurangi pesan yang ingin disampaikan. Film dokumenter ini telah menggerakkan hati penonton untuk berempati serta bertindak. Kesadaran penonton menjadi terbuka dalam upaya menyelamatkan hutan.
Film tersebut seolah berpesan bahwa pembangunan infrastruktur dan ekspansi ekonomi akan berujung sia-sia jika dilakukan dengan mengorbankan ekosistem. Tidak hanya itu, masyarakat kelas bawah menjadi pihak yang paling dirugikan atas bencana alam akibat alih fungsi hutan yang dilakukan oleh masyarakat kelas atas.
Penulis: MHR
Editor: Anggita Rahma Dinasih
