Antara Wisran Hadi dan Pestarama

Read Time:1 Minute, 23 Second

 

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar acara Pekan Apresiasi Sastra dan Drama (Pestarama) pada 21–28 Maret 2022. Acara tersebut diselenggarakan oleh mahasiswa semester enam PBSI UIN Jakarta. 

Ketua Penyelenggara Pestarama, Hikma menuturkan kegiatan tersebut rutin diadakan setiap tahun karena ini program praktikum dari mata kuliah Kajian Drama Kedua. Acara hadir untuk merevitalisasi eksistensi kebudayaan yang ada di Indonesia. Dia melanjutkan, pandemi Covid-19 tidak membatasi para penyelenggara dalam memberikan suguhan seni dan budaya Indonesia. 

“Dengan ruang yang terbatas, hal itu tidak membuat semangat kami untuk memberikan suguhan tentang seni dan budaya,” ujar Hikma pada Jumat (25/3). 

Hikma menambahkan bahwa acara ini bertajuk  “Membumi Bersama Wisran Hadi”. Selain untuk merevitalisasi eksistensi kebudayaan Indonesia, acara tersebut juga bertujuan untuk mengapresiasi seorang sastrawan asal Minangkabau yang bernama Wisran Hadi. 

Hikma mengungkapkan sosok Wisran Hadi yang menjadi inspirasi Pestarama ketujuh ini. Wisran adalah seorang budayawan Indonesia, pendiri Bumi Teater, sekaligus berkontribusi mendobrak teater di Indonesia dalam dunia pendidikan. Pestarama, kata Hikma, juga menyuguhkan karya-karya dari Wisran Hadi sebelum memasuki ruangan pertunjukan. 

Salah satu aktris teater Pestarama, Nuria Zahra menceritakan bahwa persiapan Pestarama kurang lebih selama tiga bulan. Persiapan mulai dari membaca, pemilihan aktor dan aktris, running, pra adegan hingga hari pementasan pada 21 Maret 2022. 

Nuria menjelaskan bahwa banyak menemui kesulitan terutama terkait masalah kostum dan artistik. Dalam pembuatan kostum kendala utama terletak pada penemuan ide yang membutuhkan waktu cukup lama. Pembuatan kostum tersebut dimulai dari tangan, kaki, hingga berwujud seperti layaknya kostum pementasan.

 “Semua perjuangan itu, kami kerjakan hingga pulang malam,” tutur Nuria pada Senin (21/3). 


Reporter: Nadhifah Qothrunnada

Editor: Syifa Nur Layla

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Satu Jam Upaya Menjaga Alam
Next post Mengenang 500 tahun Wafatnya Maestro Raphael