
Berangkat dari ketidakpuasan terhadap kinerja kepolisian yang menewaskan Arianto Tawakal, mahasiswa dan masyarakat sipil melakukan aksi massa guna menyuarakan lima tuntutan, mulai dari hukuman berat bagi aparat yang terlibat kekerasan hingga desakan reformasi polri secara menyeluruh.
Sejumlah massa aksi yang tergabung dari mahasiswa dan masyarakat sipil menggelar aksi bertajuk #AparatKeparat di depan Markas Besar (MaBes) Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Jumat (27/2). Aksi ini diinisisasikan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) guna merespons tragedi kematian Arianto Tawakal, pelajar asal Maluku yang tewas di tangan kepolisian.
Berdasarkan unggahan akun @bemui_official, terdapat lima tuntutan yang dibawa dalam aksi yang terdiri dari mendesak penjatuhan hukuman pidana seberat-beratnya kepada polisi yang diduga melakukan pembunuhan terhadap Arianto Tawakal serta aparat yang terlibat dalam tindakan represif mendesak pencopotan Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kapolri dan Dadang Hartanto dari jabatan Kapolda Maluku, menuntut pembebasan seluruh tahanan politik yang dinilai mengalami kriminalisasi. Menuntut penegakan batas kewenangan serta penarikan Polri dari jabatan sipil. Mendesak hasil konkret reformasi Polri secara struktural, kultural, dan instrumental melalui komisi percepatan Reformasi Polri.
Pada sekitar pukul empat sore, massa aksi memadati depan Mabes Polri dengan membawa poster dan spanduk yang berisi kritik terhadap institusi kepolisian. Selanjutnya aksi dilanjutkan dengan orasi dilakukan secara bergantian oleh perwakilan mahasiswa yang menyampaikan tuntutan serta evaluasi terhadap kinerja aparat kepolsian.
“Marilah kita berjuang untuk saudara kita Arianto yang mati di bawah tindakan polisi. Atas fenomena itu, kita sebagai mahasiswa sudah tidak terkejut lagi karena memang ada yang salah. Pembunuhan yang dilakukan aparat seolah seperti ritual tahunan yang sudah terjadi bertahun-tahun. Tahun lalu Afan Kurniawan, dan di tahun ini Arianto pun tewas di tangan aparat,” ujar Geri mahasiswa UI sebagai salah satu orator aksi, Jumat (27/2).
Selain massa aksi, terdapat massa tandingan yang mengatasnamakan dirinya Aliansi Mahasiswa Peduli Kepolisian yang turut melakukan unjuk rasa di depan Museum Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kedatangan massa tandingan sempat memicu adu argumen dan ketegangan. Situasi sempat berlangsung ricuh dalam waktu singkat, sebelum akhirnya massa tandingan meninggalkan lokasi setelah diminta mundur oleh massa aksi. .
El, mahasiswa Fakultas Teknik (FT) UI yang mengikuti aksi merasa resah saat melihat kasus tewasnya Arianto Tawakal di tangan anggota kepolisian. Ia menyoroti aksi kejam kepolisian terhadap Arianto yang masih berumur 14 tahun. “Kita lihat juga soal impunitas yang seperti tidak pernah benar-benar diselesaikan. Itu yang bikin aku makin merasa harus turun bersama teman-teman,” ujar El, Jumat (27/2) .
Ia berharap aksi ini dapat menjadi bentuk sikap bersama merespons aksi kejam kepolisian yang menewaskan Arianto. Ia juga berharap tuntutan aksi mendapat perhatian dari pihak yang dituju. “Secara pribadi, harapannya kita semua bisa sama-sama bersuara. Dari kemarin juga sudah disuarakan di berbagai tempat, jadi ini bukan cuma soal personal, tapi juga untuk pemerintah agar bisa mendengar,” tambah El.
Sementara itu, Ben, salah satu peserta aksi asal Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) menyatakan aksi berangkat dari akumulasi kekecewaan terhadap kinerja institusi kepolisian. Ia menambahkan, aksi ini juga bertujuan untuk menunjukkan bahwa masyarakat terus melakukan pengawasan terhadap kepolisian.
“Kita sudah terlalu sering marah dengan kelakuan instansi Polri yang dari tahun ke tahun makin banyak. Buat diri gue sendiri, ini akumulasi kemarahan yang memang harus diwujudkan dalam sesuatu, entah itu aksi atau kegiatan lain di kampus masing-masing,” ujar Ben, Jumat (27/2).
Jika tuntutan belum dipenuhi, Ben menyebut massa aksi akan mempertimbangkan konsolidasi lanjutan. “Kalau hari ini dirasa belum cukup untuk bikin tuntutan direalisasikan, tentu kita akan galang kekuatan yang lebih besar lagi,” tutupnya.
Setelah orasi, aksi ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap oleh perwakilan BEM UI terhadap tuntutannya kepada aparat kepolisian. Setelah buka puasa bersama, massa aksi membubarkan diri dari depan Mabes Polri.
Reporter: AA, PF
Editor: Rifki Kurniawan
