Tirani Identitas

Read Time:2 Minute, 58 Second

Judul buku      : Identitas dan Kekerasan
Pengarang       : Amartya Sen
Penerbit           : Marjin Kiri
Jumlah halaman : 242
Pemahaman identitas secara sembarangan membuat dunia berada dalam konflik yang berkepanjangan. Perlu pemahaman identitas secara menyeluruh agar konflik tidak terus terjadi.
Kepulan asap hitam membumbung tinggi di langit Amerika 11 Septemer 2001. Gedung WTC di New York kehilangan kemegahannya, tergantikan dengan letupan api disertai asap. Pemandangan yang sama terlihat di Gedung Pentagon. Sebuah pesawat menabrak salah satu sisi bangunan bersegi lima itu. Beberapa jam sebelumnya, 19 pembajak mengambil alih kemudi pesawat dan menabrakkannya ke gedung-gedung di dataran Amerika Serikat. Spekulasi berkembang, dalang penyerangan adalah Osama bin Laden yang notabene adalah seorang muslim.
Ketika ramai pelaku pengeboman World Trade Center (WTC) 2001 adalah orang Islam, orang Barat beramai-ramai menyalahkan Islam. Pandangan atas identitas tunggal “orang Islam” menimbulkan tuduhan yang sewenang-wenang kepadanya. Sebutan “orang Islam” sebagai satu-satunya identitas telah menghilangkan kemungkinan afiliasi seseorang dengan yang lain. Identitas sebagai “orang Islam” diikuti dengan konskuensi politik tertentu.
Padahal, betapa pun kuatnya identitas “orang Islam”, manusia tetaplah memiliki afiliasi dengan identitas lain. Misalnya, selain memilih keyakinan Islam, dia adalah seorang warga negara Indonesia, keturunan Arab juga seorang ekonom. Persepsi adanya identitas tunggal telah mereduksi kekhasan manusia yang kompleks dengan berbagai afiliasinya.
Di samping kritik atas tesis Huntington, pandangan Sen pun berawal dari pengalamannya ketika berusia 11 tahun. Saat itu Sen menyaksikan seorang buruh Muslim ditikam hingga tewas dalam kerusuhan sektarian di India. Para penikamnya dari kelompok Hindu, juga buruh yang sama-sama miskin. Lalu mengapa kesamaan identitas kelas ekonomi ini bisa terlupakan dan tergantikan secara membabi buta oleh identitas keagamaan?
Sen mengungkapkan bahwa semua fenomena kekerasan kolektif itu sesungguhnya sangat tergantung kepada sistem pengetahuan kita mengenai cara pandang terhadap kekerasan itu sendiri. Pandangan Sen tersebut sekaligus kritik atas tesis Samuel P. Huntington tentang Benturan Antarperadaban.
Sen menegaskan kelemahan paling mendasar Huntington terletak pada digunakannya satu bentuk yang sangat ambisius dari ilusi tentang ketunggalan. Ilusi ketunggalan ditarik dari asumsi bahwa seseorang tidak mungkin dipahami sebagai satu pribadi dengan banyak afiliasi, tidak pula sebagai orang yang menjadi bagian dari berbagai kelompok yang berbeda-beda, melainkan semata sebagai bagian dari kolektivitas tertentu yang memberinya identitas unik dan penting.
Kelemahan kedua yaitu pendekatan peradaban yang digunakan cenderung mengabaikan kebhinekaan yang ada dalam tiap-tiap peradaban. Huntington menganggap peradaban-peradaban itu bersifat homogen dan jumud.
Sen menggali konsep yang banyak disalahpahami tentang identitas. Bagi Sen, asumsi Huntington tentang  pengotak-kotakkan identitas dari agama, sejarah peradaban dunia dan politik tidak mungkin dipahami sebagai pribadi dengan banyak afiliasi adalah kurang tepat. Menurutnya identitas agama seseorang tidak bisa dijadikan identitas mutlak yang melingkupi keseluruhan identitas orang tersebut. Satu sisi identitas telah membuat manusia-manusia yang berbeda dapat disatukan dalam sebuah ikatan  yang absurd.
Sen menilai ada dua kesalahan mendasar yang terjadi dalam memahami identitas. Pertama, persepsi adanya identitas tunggal telah mereduksi kesejatian manusia yang kompleks dengan berbagai afiliasi, contoh Dea muslim, dia juga orang Indonesia pun keturunan Arab. 
Kedua, persepsi bahwa identitas adalah temuan, meski kenyataannya juga  adalah pilihan. Seorang pria memang akan tetap menjadi pria. Tetapi dia bisa memilih apakah dirinya ingin dikenali sebagai seorang pria atau seorang dosen hukum, seorang penikmat kopi, atau sebagai fans Real Madrid.
Demikian ulasan menarik Amartya Sen tentang Identitas dan Kekerasan. Selain mengkritisi tesis Benturan Peradaban milik Huntington, buku ini juga mengajak dunia untuk hidup rukun dalam keanekaragaman identitas yang dimiliki. Namun, lantaran buku asli berbahasa Inggris, maka dalam buku terjemahan masih banyak menggunakan diksi yang kurang popular.
Muhamad Ubaidillah

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Emak, Aku Mabok Lift
Next post Perbudakan Tragis Pulau Hashima