Kisah Heroik di Kota Belantik

Read Time:4 Minute, 9 Second

Judul:              Orang-Orang Biasa (Ordinary People)
Penulis:           Andrea Hirata
Cetakan Pertama, Februari 2019
Genre:             Fiksi
Penerit:           Bentang Pustaka
Halaman:        300
Belenggu kemiskinan tak membuat semangat hidup pudar. Serangkaian aksi sepuluh sekawan menembus batas tak beraras.
Belantik merupakan sebuah kota kecil yang terletak di pesisir laut. Kota ini penduduknya hidup bersahaja, tenteram, aman, bahkan tidak ada tindak kriminal sekalipun. Bahkan dua orang polisi yaitu Inspektur Abdul Rojali dan Sersan P. Arbi begitu tertekan lantaran sudah cukup lama dia hanya berdiam diri di ruang kerjanya, tidak kunjung mendapatkan aksi heroik seperti menangkap maling dan membasmi penjahat. 
Terkisahsepuluh sahabat terdiri dari Dinah, Debut, Salud, Tohirin, Rusip, Nihe, Junilah, Sobri, Honorun, dan terakhir Handai. Sepuluh sekawan ini memiliki nasib yang tidak beruntung sejak kecil. Mereka adalah murid-murid yang tergolong bodoh di kelas dan berasal dari keluarga miskin. Sepuluh sekawan ini pun sering menjadi sasaran penindasan yang dilakukan oleh Trio Bastardin dan Duo Boron. Setelah dewasa, dua geng penindas itu pun hidup dalam kedamaian dan sentosa. Lain halnya dengan kehidupan sepuluh sekawan kelompok Debut, yang hidup dalam belenggu kemiskinan, tak jauh berbeda dari kisah masa kecilnya.
Misalnya Dinah, Setelah dewasa, Ia harus kehilangan suaminya karena kekurangan biaya untuk mengobati sang suami yang sakit keras. Pada akhirnya ia harus rela berjualan mainan anak-anak demi menghidupi keluarganya. Yang terparah, Ia harus membuat anaknya, Aini, tidak bisa melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran. 
Berbanding terbalik, Kehidupan Trio Bastardin dan Duo Boron saat dewasa justru dipenuhi dengan kemewahan. Kekayaan yang mereka peroleh berasal dari tindak kejahatan yang tergolong besar, yaitu Mereka terlibat konspirasi pencucian uang rakyat. Harta yang diperoleh dari aksi kriminalnya, dialirkan untuk mendirikan usaha Toko Batu Mulia.
Kegelisahan dan kesulitan yang dialami Dinah, membuat Dinah mengunjungi teman semasa SMA nya bernama Debut untuk mengadukan permasalahannya. Akhirnya Debut memberikan ide untuk menyusun skenario pencurian di Bank. Kemudian Debut pun mengumpulkan sepuluh sahabatnya di masa kecil yang memiliki nasib yang sama.  Lantas mereka mulai merencanakan strategi pencurian secara terorganisir.
Hari dilaksanakan aksi perampokan pun tiba, Jumat pukul 15.00 bertepatan dengan pawai tarian 1000 topeng monyet di Belantik. Sepuluh sahabat ini dibagi menjadi 2 tim. Mobil tim 1 berada paling depan dan tim 2 di belakang. Strategi perampokan hampir berhasil dilakukan. Namun sayang, ketika tim 1 sudah hendak menuju brankas, Debut sang ketua justru memberikan instruksi untuk segera meninggalkan Bank. Akhirnya tim 1 pun lekas meninggalkan bank tanpa membawa uang sepeser pun.
Atas instruksi Debut, mereka pun segera beranjak dan beralih menuju Toko Batu Mulia milik Bastardin. Mereka segera beraksi dengan memakai topeng monyet. Sampai di ruangan toko, mereka segera menembak CCTV dan lampu yang berada di dalam ruangan serta menyita semua alat komunikasi. Debut segera mendekati Bastardin yang merupakan pemilik toko dan menodongnya. Dengan pasrah, Bastardin segera mengantarkan Debut menuju ruang penyimpanan uang. Akhirnya mereka berhasil menenteng tas-tas besar yang berisi uang puluhan juta.
Suara tembakan sempat terdengar hingga polisi datang ke Toko Batu Mulia. Namun saat dimintai keterangan, Bastardin justru mengatakan bahwa tokonya baik-baik saja karena takut kedok kejahatannya terbongkar. Akhirnya polisi pergi setelah melihat koleksi batu mulia di tokonya memang tak ada yang hilang.
Hari berikutnya, usai perampokan, salah satu informan bernama Dragonudin mengirim pesan kepada polisi. Terdapat dalam kutipan “Sore Komandan, bukti perampokan yang dicari polisi ada dalam peti 4, 5, 7, dan 9 di bak truk yang disopiri Boron menuju Pelabuhan Tonjong Lantai”(halaman 256). Tertegun dengan pesan tersebut, akhirnya polisi meluncur mendatangi lokasi. Sampai di lokasi, polisi mengejar mobil yang ditumpangi oleh Boron. Melihat polisi yang cekatan mengikuti mobilnya, lantas Boron melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lantas, dengan gerakan kilat polisi dapat menyalip mobil Boron dan membekuknya dengan borgol. Dan benar saja semua bukti-bukti kejahatan terbongkar dalam sekejap, semua peti-peti tersebut meluapkan semua uang hasil tindak kriminal.
Novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata ini sangat menarik untuk dibaca karena menyajikan kisah nyata dari seorang anak bernama Putri Belianti yang memiliki kecerdasan gemilang hingga lolos seleksi masuk Fakultas Kedokteran. Selain itu, novel ini menghadirkan sekelumit kisah permasalahan hidup yang sesuai realitas seperti belenggu kemiskinan yang menghalangi seseorang untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ada empat poin pesan yang bisa dilihat dari novel ini yaitu pengorbanan, persahabatan, kegigihan, dan perjuangan.
                                        
Ika Titi Hidayati
                                          

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
50 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
50 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Realisasi Hijaukan Bumi
Next post Radikalisme di Mata Internal Kampus