Hari Puan, Jembatan Menagih Keadilan

Hari Puan, Jembatan Menagih Keadilan

Read Time:1 Minute, 25 Second

Aksi “Perempuan Menggugat” menjadi ajang untuk menyuarakan keresahannya perempuan dalam aspek kehidupan yang memandang puan sebelah mata. Aksi tersebut menjadi jalan mereka untuk menyuarakan kepada pemerintah tepat Hari Perempuan Internasional.

Rabu pagi (8/3) seluruh aktivis perempuan dari 30 aliansi mengadakan aksi International Women Days (IWD) dengan tema “Perempuan Menggugat.” Para peserta berkumpul di titik Halte Ikatan Restoran dan Taman Indonesia (IRTI). Kemudian, mereka melakukan pawai sampai Gedung Istana Negara, Jakarta Pusat.

Walaupun dalam aksi ini mayoritas diikuti oleh perempuan, akan tetapi tidak membatasi para pria untuk turut menuntut keadilan dan kesetaraan gender. Maka, para buruh lelaki dari Kongres Serikat Buruh Indonesia (KASBI) pun ikut berkontribusi.

Salah seorang anggota KASBI, Ahmad mengatakan, Ia mengikuti aksi IWD dikarenakan ingin memberhentikan ketidakadilan dan kriminalisasi terhadap perempuan. “Saya menuntut hak perempuan karena saya mewakili istri dan anak saya,” ujar Ahmad, Rabu (8/3).

Koordinator aksi Aliansi Solidaritas Perempuan, Aries kurniawati menyampaikan, para buruh dan aktivis perempuan kompak melakukan aksi gugatan terhadap negara. Hal itu dikarenakan kebijakan dan program pemerintah banyak yang tidak berpihak kepada perempuan.

Lanjut, Aries menambahkan, banyaknya para buruh perempuan yang menjadi korban kebijakan pemerintah, di antaranya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Cipta kerja. 

“Seperti tidak adanya hari cuti hamil atau melahirkan bagi perempuan dalam Perppu tersebut,” ujar Aries, Rabu (8/3).

Kemudian, salah seorang masyarakat sipil, Dea Safira mengakui dirinya mengikuti aksi IWD setiap tahun. “Alasannya karena sekarang masih banyak kekerasan seksual dan struktural bagi perempuan,” keluh Dea, Rabu (8/3).

Dea pun berharap aksi IWD ini dapat didengar oleh pemerintah karena peran perempuan sangat dibutuhkan negara. “Semoga tidak ada lagi kesenjangan gender, kemiskinan, bahkan penindasan terutama di Indonesia,” tutur Dea, Rabu (8/3). 

Reporter: FH

Editor: Febria Adha Larasati

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
<img alt="Kafe Klasik Bernuansa Antik" title="Kafe Klasik Bernuansa Antik" width="300" height="300" src="https://lpminstitut.com/wp-content/uploads/2023/03/20230309_202018_0000-300x300.png" class="attachment-medium size-medium wp-post-image" alt="Kafe Klasik Bernuansa Antik" title="Kafe Klasik Bernuansa Antik" decoding="async" srcset="https://lpminstitut.com/wp-content/uploads/2023/03/20230309_202018_0000-300x300.png 300w, https://lpminstitut.com/wp-content/uploads/2023/03/20230309_202018_0000-1024x1024.png 1024w, https://lpminstitut.com/wp-content/uploads/2023/03/20230309_202018_0000-150x150.png 150w, https://lpminstitut.com/wp-content/uploads/2023/03/20230309_202018_0000-768x768.png 768w, https://lpminstitut.com/wp-content/uploads/2023/03/20230309_202018_0000.png 1080w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /> Previous post <strong>Kafe Klasik Bernuansa Antik</strong>
Jajaran Rektorat Resmi Berganti Next post Jajaran Rektorat Resmi Berganti